| 0 |
Padang rumput itu terbentang di sisi kerimbunan hutan. Sebatang anak sungai
melintas di berkelok membelah padang menyusup hutan. Air sungai mengalir
meliuk di antara bebatuan yang berkilau memantulkan sinar matahari bagaikan
kerling dewi penggoda hati. Gemericik jatuhnya air di riam kecil saling
jalin-menjalin dengan kicauan burung, sesekali dikejauhan terdengar lenguh
sapi yang sedang merumput. Di sana, di keteduhan pohon-pohon yang rindang,
dua anak pelanduk sedang bercanda berkejaran ria. Kelincahan kaki-kaki
mereka bagai menari di atas permadani rumput, kadang bagai menabuh perkusi
bumi, lembut. Angin sejuk sepoi mendesah di antara bisik-bisik dedaunan,
ditimpali derum sepeda motor melintas......Astaga! derum sepeda
motor???....
Saya tersentak sadar dari lamunan. Masih terdengar sayup-sayup derum sepeda
motor yang baru saja melintas di depan rumah. Berantakanlah gambaran indah
yang muncul dari alunan violin concerto nya Mendelssohn. Yah, walaupun pita
kaset ini sudah agak molor tapi masih lumayan lah.
Saya kembali cari posisi duduk yang enak, sambil merem-melek saya coba
menyambung lamunan saya tadi. Saat itulah dari celah kelopak mata, saya
lihat Badu masuk. Badu sudah biasa dolan ke tempat saya dan langkah-langkah
kakinya yang santai menunjukkan tidak ada berita penting, jadi saya diamkan
saja. Saya menutup mata, mencari-cari momentum yang pas untuk masuk dalam
buaian musik klasik itu lagi.
Ceklak! Musiknya tiba-tiba berhenti. Aduuuuh, gangguan kok beruntun. !@#$%^
&$%#@@ { maaf, "kata-kata mutiara" ini nggak boleh ditulis di milis :-) }.
Rupanya kaset Mendelssohn saya dicabut Badu dan diganti. Sesaat kemudian
terdengarlah "Kolam Susu"nya Koes Plus !
"Aduh, Du, apa-apaan sih kamu ini" kata saya dengan jengkel.
Badu kalem saja menjawab, "Lha wong musik bingung gitu kok didengarkan.
Mbok ya ndengarkan lagu gini ini, bagus dan merupakan puja-puji bagi bumi
pertiwi ini, ....tongkat dan batu jadi tanaman...." Badu malah bersenand
ung.
"Ya.. aku juga suka Koes Plus. Kalau tidak, masak aku koleksi kaset itu.
Tapi satu-satunya yang namanya musik itu ya musik klasik ini," jawab saya
sambil mengganti kaset Koes Plus dengan kaset Mendelssohn. "Coba dengar dan
resapkan. Pakai _rasa_. Sudah diinstall apa belum sih Rasa Pro nya?"
"Ehm, Rasa Pro..kul -- Pro-sesnya di deng-kul," jawab Badu seenaknya.
Matanya melirik buku Kahlil Gibran yang sering dipinjamnya. Terakhir kali
dia baca buku itu malah mimpi dikunjungi Sang Bijak.
Volume suara tape recoder saya besarkan, "Nih, Du, coba kamu hayati betapa
megah dan agung musik ini. Tidakkah kamu rasakan betapa alunan biola ini
bagai angin sepoi membuai ditingkah ketukan piano bagai kaki-kaki pelanduk
yang lincah. Rasakan melodi yang jalin menjalin mengalun bagai aliran air
sungai. Dsb....dsb...dst...dst... Aaaah.. inilah musik langit, satu-satunya
musik sejati. Kalau kamu ingin mengenal keindahan dan ingin dapat larut
menyatu di dalamnya, ya harus lewat musik klasik ini."
Badu seakan tidak mendengar semua kata-kata saya tadi. Dia malah asyik
mengguntingi kuku kakinya. Aaaarrrrrrgh...bagaikan membentur tembok tebal
buatan Kang Sarta. Sampai kering tenggorokan saya.
"Kamu ini dengar apa tidak sih?" voltase saya mulai naik.
"He, he, he... sabar..sabar..nanti sekringmu putus lho. Dengar sih dengar,
tapi apa ya musik klenik itu satu-satunya jalan..."
"Musik KLA...SIK !" teriak saya.
Badu tidak ambil pusing, meneruskan, "Aku rasa musik itu sudah ada dalam
hati kita semua. Kalau aku sih sudah sejak kecil dibuai musik alam, desahan
angin, kicauan burung. Bagiku, musik itu adalah matahari yang terbit, sawah
yang kucangkul, rumput yang kusabit. Mungkin bagi Pak Wono penebang pohon
itu, musik mengalun saat kapaknya menghunjam di batang pohon, mungkin bagi
Pak Joyo jagal di RPH itu, musik mengalun saat darah si sapi muncrat
keluar. Musik itu adalah kejujuran, kesabaran, kesederhanaan. Musik itu
menerima dan mengasihi."
Saya jadi tak tahu mau balas ngomong apa. Heran, Badu kok bisa ngomong
seperti itu. Pasti habis menimba ilmu dari Kang Sarta.
"Dah, aku pulang dulu. Pinjem Kahlil Gibran nya lagi ya," kata Badu sambil
menenteng buku saya dan beranjak keluar. "Oh ya, kamusnya sekalian...hampir
lupa.." katanya dengan menyambar kamus Inggris-Indonesia di atas meja.
Terdengar senandungnya, "...Orang bilang tanah kita tanah surga...."
==========

Tidak ada komentar:
Posting Komentar