Sabtu, 13 September 2008

Tentang Gitaris yang Terbaik

Ikon musik rock, Jimi Hendrix, bulan Agustus lalu terpilih sebagai Gitaris Terbaik Sepanjang Masa hasil jajak pendapat majalah Inggris, Total Guitar. Jajak pendapat ini diselenggarakan dalam rangka peringatan penerbitan ke-100 majalah tersebut dalam edisi 5 Agustus 2003.< Agustus 5 edisi dalam tersebut majalah ke-100 penerbitan peringatan rangka diselenggarakan ini pendapat Jajak Guitar. Total Inggris, jajak hasil Masa Sepanjang Terbaik Gitaris sebagai terpilih lalu bulan Hendrix, Jimi rock,>

Hendrix yang asal Amerika Serikat (AS) memang layak menyandang gelar terbaik dan dikenal dengan aksi panggung dan raungan elektrik gitar Fender Stratocaster kesayangannya. Tidak jarang, Hendrix yang kidal itu memainkan gitar dengan gigi-giginya, bahkan menyuguhkan aksi seperti sedang berhubungan seksual dengan gitarnya.

Sementara gitaris Inggris pendiri Led Zeppelin, Jimmy Page, berada di urutan kedua. Page merupakan satu-satunya gitaris yang mampu memaksimalkan permainan dengan gitar double neck dalam konser-konser Led Zeppelin. Kemampuannya menyulap gitar akustik juga sulit tertandingi seperti terdengar dalam hampir seluruh lagu album Led Zeppelin III.

Di tempat ketiga bercokol Eric "Slowhand" Clapton. Seperti halnya Page, Clapton merupakan alumnus band rock and blues Yardbirds. Berkat kehebatannya, penggemar di Inggris sempat menjuluki dia dengan sebutan "Clapton Is God" bagi pribadi yang sebetulnya pemalu ini.

Lebih dari 400 gitaris internasional dinominasikan oleh majalah Total Guitar. Majalah ini melakukan jajak pendapat dengan mewawancarai sekitar 800 pembaca dan para pesohor yang diminta memberikan daftar lima gitaris terbaik versi masing-masing, dan dipilihlah 100 yang terbaik.

Mudah diduga, mereka yang terpilih di urutan teratas adalah gitaris-gitaris yang tumbuh subur pada dua dekade rock klasik, yakni 1960 dan 1970. "Mereka mungkin saja dianggap kurang hebat dari kacamata setiap kritikus. Namun, mereka merupakan gitaris-gitaris yang berjari cepat, paling berisik, dan paling mencengangkan dalam dunia rock and roll," kata editor Total Guitar, Scott Rowley.

Di antara mereka yang masuk daftar 10 besar adalah dua gitaris Inggris lainnya, yakni Brian May (Queen) di urutan kelima serta David Gilmour (Pink Floyd) di urutan kedelapan. Sementara urutan keempat diduduki gitaris AS lainnya, Slash, dari kelompok Guns N’ Roses.

Ada beberapa gitaris muda yang masuk daftar, antara lain Tom Morello dari band Rage Against The Machine di urutan ke-13 serta Kurt Cobain (Nirvana) di urutan ke-14. Dan tidak ada satu pun perempuan gitaris yang masuk daftar 100 terbaik sekalipun Tracy Chapman sempat masuk nominasi di antara 440 nama gitaris itu.

Tidak ada yang mengeluh dengan hasil jajak pendapat Total Guitar ini sampai munculnya laporan utama majalah musik AS, Rolling Stone, edisi 18 September 2003. Tanpa melakukan jajak pendapat, Rolling Stone menobatkan Hendrix di urutan pertama gitaris terbesar sepanjang sejarah.

Secara khusus, Rolling Stone meminta gitaris The Who, Pete Townshend, untuk menulis tentang Hendrix. Menurut Townshend, "Hendrix membuat gitar elektrik menjadi indah." Dia mengaku pula sempat saling memegang tangan dengan Clapton sebagai tanda kagum ketika mereka menyaksikan konser Hendrix.

Namun, penilaian Rolling Stone itu menimbulkan kontroversi ketika almarhum Duane Allman dari Allman Brothers dipilih sebagai urutan kedua terbaik. Yang lebih membuat banyak penggemar kecewa dan lewat surat elektronik menuduh majalah itu tidak fair karena tidak ada Steve Vai, Yngwy Malmsteen, atau Joe Satriani.

Sebetulnya Rolling Stone patut dipuji dengan menempatkan gitaris-gitaris kulit hitam AS di dalam 10 besar, yakni BB King (urutan 3), Robert Johnson (5), dan Chuck Berry (6). Harap maklum, gitaris-gitaris rock seperti Page atau Clapton sering mengaku, mereka terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan Chicago Blues dan Delta Blues tersebut.

BB King, yang bulan Oktober nanti tepat berusia 78 tahun, misalnya, memang pantas mendapat tempat nomor ketiga. "Cara dia bending dawai membuat gitarnya yang bernama Lucille menangis seperti seorang perempuan," kata Rolling Stone.

Akan tetapi, pilihan para editor Rolling Stone itu memang agak konyol. Misalnya, seperti melecehkan George Harrison dari The Beatles (di urutan ke-21), Mark Knopfler dari Dire Straits (27), Brian May dari Queen (39), John McLaughlin (49), Ritchie Blackmore (55), Steve Howe dari Yes (69), Eddie Van Halen (70), David Gilmour dari Pink Floyd (82), dan Tony Iommi dari Black Sabbath (86).

Surat-surat elektronik itu mengherani mengapa Harrison dianggap masih kurang memadai untuk dibandingkan dengan Jack White dari White Stripe (urutan ke-17) dan John Frusciante dari Red Hot Chili Peppers (18). Lalu, kemampuan May dan Blackmore dinilai berada di bawah kehebatan Tom Morello dari Rage Against The Machine (26) dan Ron Asheton dari Stooges (29).

Untuk menilai Allman yang berada di urutan kedua, yang dianggap lebih baik dibandingkan Clapton dan Page, Rolling Stone menulis, "Allman berhasil mengubah poetry of jamming (kira- kira artinya membuat indah sebuah permainan gitar secara bersama-sama) dengan Allman Brothers Band, band rock asal Atlanta (AS) yang dia bentuk bersama adiknya, Gregg, tahun 1969."

Nomor terakhir di urutan ke-100 ada Kim Thayil yang merupakan gitaris band rock yang kini tidak jelas nasibnya, Soundgarden. Townshend sendiri duduk di urutan ke-50, sementara perempuan gitaris yang masuk daftar 100 besar adalah Joni Mitchell (72) dan Joan Jett (87).

SELERA orang pasti berbeda-beda meskipun rambut sama-sama hitam. Baik Total Guitar maupun Rolling Stone pasti mempunyai legalitas untuk menjatuhkan penilaian terhadap siapa gitaris terbaik sepanjang masa, apakah itu didasarkan pada pilihan editor-editor ataupun melalui jajak pendapat.

Namun, dari kedua hasil penilaian dua majalah bergengsi itu-juga majalah Mojo edisi tahun 1996-ternyata nama-nama rock klasik masih mendominasi. Gejala ini tidaklah mengherankan mengingat pemanfaatan gitar sebagai instrumen pada saat itu memang mencapai tingkat paling sempurna.

Kebetulan pula, gitaris-gitaris pada masa itu sangat terpengaruh dengan musik blues Amerika. "Gospel politik" pemusik-pemusik Delta Blues atau Chicago Blues yang berkembang pesat di awal abad ke-20 seperti menjadi jodoh yang ideal bagi gitaris-gitaris akil balik di AS maupun Inggris.

Pengaruh penting lainnya yang dirasakan generasi bunga ini adalah musik rock’n’roll ala Elvis Presley. Khusus untuk instrumen gitar, mereka banyak meniru gaya Johnson, BB King, Bo Diddley, Howlin’ Wolf, atau gitaris "pemuja setan" Sonny Boy Williamson.

Di awal dekade 1960, raja-raja gitaris masih cukup banyak untuk menjadi role model bagi remaja-remaja seperti Townshend, Richards, atau Beck. Di antaranya Berry, Muddy Waters, Hank Marvin dari The Shadows, Chet Atkins, Wes Montgomery, atau Elmore James.

Sebagian dari remaja itu, seperti Howe atau Blackmore, memiliki latar belakang sebagai gitaris klasik. Sementara orang-orang seperti Harrison atau Clapton tidak pernah belajar secara formal alias menjadi gitaris yang autodidak.

Kebetulan-kebetulan sejarah itulah yang membuat gitaris-gitaris 1960-an mendapatkan peluang emas untuk mengasah diri, baik melalui karier solo maupun dengan membentuk band. Beberapa "band gitar" yang paling menonjol ketika itu antara lain Blues Incorporated, John Mayall’s Bluesbreakers yang antara lain menghasilkan Clapton, Peter Green (kemudian mendirikan Peter Green’s Fleetwood Mac), dan Mick Taylor yang pernah bergabung dengan Rolling Stones.

Lalu ada Yardbirds yang juga menjadi "kawah candradimuka" bagi dua gitaris terbaik, Page yang kelak mendirikan Led Zeppelin dan Jeff Beck yang selalu setia kepada karier solonya. Dan tentu saja ada pula grup "dua gitar" Rolling Stones yang menempa kemampuan Keith Richards, Brian Jones, dan Taylor.

Selama dasawarsa 1960 dan 1970, gitaris-gitaris itu berhasil memoles keahlian masing-masing antara lain juga berkat bantuan teknologi gitar itu sendiri. Gitar buatan Fender, terutama Telecaster dan Stratocaster, lengkap dengan segala macam aksesorinya, menjadi favorit bagi Hendrix, Clapton, Beck, Mark Knopfler, bahkan sampai era Kurt Cobain.

Sebuah lagi merek gitar yang besar kontribusinya bagi pengembangan teknik para gitaris ketika itu adalah Gibson Les Paul yang menjadi andalan Page dan Duane Allman. Sementara Harrison dan Townshend gemar memakai Rickenbacker, dan banyak pula yang keburu jatuh cinta kepada berbagai jenis Gretsch atau Vox.

Pembuat gitar-gitar pesanan (custom made) tersebut juga pernah membuatkan gitar-gitar unik seperti double neck (buatan Gibson) dan triple neck (buatan Andy Mason) masing-masing untuk Page dan John Paul Jones dari Led Zeppelin.

Memang beraneka ragam argumen mengenai siapa yang layak terpilih atau dipilih menjadi gitaris terbaik sepanjang masa. Sama banyaknya dengan jumlah merek dan teknologi instrumen itu sendiri, dan sekali lagi juga tergantung dari selera masing-masing pendengar. Anda pasti juga mempunyai pendapat sendiri, kan? (Budiarto Shambazy)

Tidak ada komentar: